Situs Blog Berita, Ya Blogger Berita Indonesia.

  • Berita

    Menyajikan Berita Teraktual Dari Sumber Terpercaya.

  • Olahraga

    Menyediakan Berita Olahraga Dari Sumber Terpercaya

  • Profil

    Menampilkan Beberapa Profil Tokoh Publik Yang Berpengaruh

Minggu, 06 September 2020

Dari Padang Sidempuan ke Garut

 


Pada Mei 1933 keadaan garut sangat tidak kondusif. Itu semua diakibatkan dari pada wabah sampar lebih dari 2000 orang yang ditahan karena mengabaikan protokol kesehatan waktu itu. Di antara banyak orang yang digelandang ke penjara itu akibat melakukan protes bahkan perlawanan terhadap petugas kesehatan. Yang lebih buruk lagi ditambah dengan kedaan bupati Garut beserta jajaran pegawai sipilnya dianggap lemah. Demikian pula Asisten Residen Garut A. Sangster banyak dikeluhkan warga Eropa, karena kebijakannya dianggap aneh.

Hal inilah menurut wartawan yang menulis dalam Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 31 Mei 1933) yang menjadi alasan utama diselenggarakannya penyelidikan di sana. Sampai-sampai anggota Dewan Rakyat (Volksraad) Oto Iskandar di Nata menyampaikan pendapatnya di hadapan para anggota lainnya pada 30 Mei 1933. Setelah membaca tulisan J.J. Mys dalam AID de Preanger Bode ihwal perlawanan masyarakat Garut terhadap “suntik mayat”, Oto paling tidak mengajukan dua pertanyaan.

Pertama, apakah pemerintah kolonial tidak berpikir bahwa aturan pemeriksaan kematian seharusnya dikembangkan sesegera mungkin sebagaimana yang disarankan J.J. Mys. Kedua, apakah sudah disiapkan untuk menyelidiki atau menjawab pertanyaan mengapa masyarakat Garut demikian bergebu-gebu melakukan perlawanan terhadap “suntik mayat”, padahal di tempat lainnya yang sama-sama terjangkit sampar, perlawanannya tidak begitu kuat.

Dalam suasana inilah, Dokter Ahmad Ramali dipindahkan dari Padang Sidempuan, Sumatra Utara, ke Batavia. Menurut Supriati (DR. Ahmad Ramali: Hasil Karya dan Pengabdiannya, 1981, dalam “Islam dan Persoalan Higiene di Hindia Belanda” karya Gani A. Jaelani, 2017), Ahmad Ramali yang lahir di Bonjol pada 20 November 1903 ini lulusan Openbare Lagere Europesche School di Bukittinggi dan STOVIA (1928). Setelah lulus, dia menjadi dokter di rumah sakit pemerintah di beberapa daerah, yaitu Pematang Siantar, Padang Sidempuan, Jakarta, Semarang, dan Tuban. Saat bertugas di Padang Sidempuan, dia kerap memberi ceramah dalam bidang kesehatan, terutama untuk menangkal malaria, di sebuah perkumpulan anak-anak sekolah bernama Gezondheid Briegade. Konon, tindakannya dianggap mengurangi kewibawaan pemerintah Belanda, dan karenanya kemudian ia dipindahtugaskan ke Batavia.

Namun, sebaliknya dengan yang saya baca dari koran Belanda di atas, kepindahan Dokter Ramali justru disebabkan oleh mutunya yang tinggi dalam bidang keilmuan Islam untuk menangani sampar di Jawa, terutama untuk membantu memecahkan kasus-kasus yang terjadi di Garut. Sebelum kepergiannya ke Batavia, ia telah melakukan surat-menyurat dengan Snouck Hurgronje, Hussein Djajadiningrat, serta guru-guru agama di Pulau Jawa.

Perintah resmi kepindahannya ke Batavia terjadi pada awal Juni 1933. Ia diminta untuk bekerja dalam penanganan kasus sampar di Garut karena melibatkan perlawanan dari masyarakat yang menggunakan isu agama. Dalam Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 8 Juni 1933) disebutkan bahwa baru-baru ini Dokter Ramali bekerja di Tapanuli untuk meyakinkan penduduk dengan menggunakan dalil agama mengenai pentingnya mengeringkan kolam-kolam ikan karena menjadi sarang bagi jentik-jentik nyamuk penyebar malaria. Ia menggunakan hadis dan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menegaskan pentingnya menjaga kesehatan.

Untuk tugas barunya dalam penanganan sampar di Garut, Dokter Ramali menulis sebuah brosur dalam bahasa Melayu berjudul Tangkal Pest: Jaitoe Persatoean Ilmoe dan Agama Menolak Bahaja Pest dan langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda menjadi Noelak Pest: Ngahidjikeun Pangaweroeh djeung Agama pikeun Noelak Kasakit Pest. Kalau melihat pemberitaan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie (edisi 21 Desember 1933), keduanya diterbitkan paling tidak diterbitkan pada Desember 1933. Jadi, lima bulan atau lebih setelah dia diperintahkan untuk pindah ke Batavia dan bekerja membantu menangani wabah sampar di Garut.

Memang menurut Jaelani (2017) Dokter Ramali memiliki ketertarikan untuk melihat hubungan antara Islam dengan ilmu kedokteran akibat kedekatannya dengan tokoh Sarikat Islam (SI) H. Agus Salim. Bahkan sebelum menulis Tangkal Pest, Dokter Ramali menulis artikel berjudul “Bijdrage tot de Medisch-Hygiënische Propaganda in eenige Islamitische streek” tentang kesesuaian antara prinsip-prinsip Islam dengan hidup higienis. Tulisan yang dimuat dalam GTvNI ini kemudian dijadikan bahan disertasinya di Universitas Gadjah Mada: Peraturan-peraturan untuk memelihara kesehatan dalam hukum Syara’ Islam (1950).

Bukti kedekatan Dokter Ramali dengan H. Agus Salim terlihat dari pengantar Tangkal Pest yang ditulis oleh tokoh SI itu. Di dalam pengantarnya antara lain H. Agus Salim menulis demikian: “… Saja merasa senang, karena karangan toean itoe memboektikan, bahwa djalan kebenaran dan keoetamaan haroes ditjari pada djalan persatoean ‘ilmoe dan agama, dengan ‘ilmoe sebagai alat perkakas dan agama sebagai pedoman penoentoen”.

Perihal penolakan “suntik mayat” yang dianggap “merendahkan deradjat majat” dan “menghina kepada majat”, menurut penilaian H. Agus Salim, Dokter Ramali berhasil memadukan silang pendapat dalam hal ini, “Maka amat berkenan hati saja melihat toean menjatakan pendapatan jang tentoe dengan tidak koerang anggapan kepada paham jang berlainan. Sehingga dapatlah toean memberi djalan perdamaian bagi kedoea belah pihak tentang soentikan majat itoe” (Ramali, 1933, dalam Jaelani, 2017).

Menurut Jaelani (2017), ada dua bentuk penolakan terhadap “suntik mayat”, yakni penolakan yang sifatnya teknis dan substantial. Terkait yang pertama, umumnya menyangkut perlakuan terhadap mayat, seperti pemeriksaan mayat perempuan oleh dokter laki-laki atau perlakukan semena-mena seorang dokter ketika memeriksa mayat. Menurut Dokter Ramali, rakyat berhak protes jika ada perlakukan yang tidak sesuai, tapi: “Tidaklah hal itoe mengobah kenjataan, bahwa pengawasan kematian itoe adalah satoe atoeran jang perloe oentoek mendjaga keselamatan negeri dan pendoedoek”, dan “keberatan-keberatan itoe tidak haroes didjadikan sebab akan mengetjiwakan pekerdjaan pengawasan kematian itoe. Sebab dengan ‘menjeloedoepi’ pengawasan itoe dan menjemboenjikan majat atau mengoeboerkan majat sebeloem pemeriksaan, boekan pegawai-pegawai jang salah itoe jang kena bentjana, melainkan negeri dan kaoem pendoedoek sendiri djoega jang ditimpa oléh bahaja” (Ramali, 1933, dalam Jaelani, 2017).

Kemudian untuk penolakan yang bersifat substantial berupa menusukkan jarum suntik ke limpa mayat merupakan laku merusak mayat yang jelas dilarang oleh agama, Dokter Ramali menyatakan “Soentikan itoe […] tidak oentoek memasoekkan barang satoe apa kedalam badan majat itoe, melainkan oentoek mengeloearkan air daripada limpanja oentoek diperiksa” (Ramali, 1933, dalam Jaelani, 2017) dan berupa pandangan “suntik mayat” dianggap aniaya, ia menganalogikannya dengan diperbolehkannya mengeluarkan bayi yang masih hidup di lama perut soerang ibu yang meninggal dengan cara membedah perutnya.

Sayang sekali, terobosan yang dilakukan oleh Dokter Ramali dalam penanganan sampar di Priangan, khususnya Garut, seakan-akan tidak dihargai. Karena belum setahun di Batavia, pada awal Maret 1934, dia sudah dipindahkan lagi ke Bima, Nusa Tenggara Barat, dengan alasan tidak jelas, karena di daerah itu tidak ada wabah sampar. Hal ini tentu mengejutkan banyak orang (De Indische Courant, 12 Maret 1934). Apakah memang hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa Dokter Ramali mengurangi kewibawaan pemerintah Belanda? Kemudian karena membawa-bawa masalah agama Islam ke dalam penangan sampar? Atau karena kedekatannya dengan tokoh SI?

Sumber: ayobandung.com

Share:

Note! Jadwal dan Lokasi Perpanjang SIM di Kota Bandung Seminggu ke Depan

Sumber Foto: ayobandung.com

(Satpas) Satuan Penyelenggara Administrasi SIM Polrestabes Bandung melayani perpanjangan SIM keliling online pada tanggal 7 September hingga 13 September 2020. Pelayanan tersebut tersebar di beberapa lokasi.

Berikut jadwal dan tempat pelayanan perpanjangan sim keliling online:

Senin 7 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Jalan Pungkur atau tepatnya di ITC Kebon Kelapa. Lokasi kedua bertempat di Metro Indah Mall Jalan Soekarno Hatta.

Selasa 8 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Jalan Djunjunan atau tepatnya di BTC Fashion Mall. Kemudian, lokasi kedua di Yamaha JG Ciwastra.

Rabu 9 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Jalan Ibrahim Adjie atau tepatnya di sekitar BTM Cicadas. Lokasi kedua di MIKO Mall Jalan Terusan Kopo Bandung.

Kamis 10 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Yamaha JG BKR dan lokasi kedua di Borma Cipadung Jalan A.H.Nasution.

Jumat 11 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Pasar Modern Batununggal Blok RG nomor 03 Bandung, sedangkan lokasi kedua di Lucky Square Jalan Terusan Jakarta.

Pada hari Sabtu 12 September 2020, dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Lokasi pertama berada di Jalan Djunjunan atau tepatnya di BTC Fashion Mall. Kemudian lokasi kedua di Pasar Modern Batununggal Blok RG nomor 03 Bandung.

Pada hari Minggu 13 September 2020, pelayanan perpanjangan SIM keliling tidak beroperasi. Namun, pemohon bisa datang ke Gerai SIM Online di Festival Citilink.

Khusus Gerai SIM Online di Festival Citylink Jalan Peta, Bandung, pelayanan perpanjangan SIM dibuka mulai hari Senin 7 September hingga Minggu 13 September 2020. Pelayanan dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
 
Untuk sementara, SIM Corner Batununggal dan SIM Outlet BTC tidak beroperasional. Diimbau bagi pemohon perpanjangan SIM agar mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, dan membawa hand sanitizer.

Kasatlantas Polrestabes Bandung, Kompol Bayu Catur Prabowo, mengingatkan kepada warga agar tetap menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan. "Mari kita patuhi semua protokol kesehatan yang ada, salah satunya wajib memakai masker bila keluar rumah," ujarnya.

Share:

Sabtu, 05 September 2020

Efektivitas Masker dan Face Shield Diragukan Tangkal Covid-19

 Gaya Hidup - Sehat, Masker Jenis Ini Diragukan Efektivitasnya Tangkal Covid-19, masker valve,masker berkatup,masker filter,Face Shield,Pandemi Corona

Efektifitas masker berkatup dan face shield mulai diragukan melindungi seseorang dari penyebaran virus corona usai penelitian terbaru dilakukan.

Para peneliti dari Florida Atlantic University menguji performa face shield dengan alat bernapas dalam menangkal aerosol seukuran droplet, seperti halnya ukuran virus corona. Hasilnya mengagetkan.

Face shield transparan cenderung lebih efektif menangkal droplet saat awal tersembur. Droplet cenderung memantul lalu tersebar tanpa mengenai pemakainya.

Namun, setelah itu, droplet dapat bergerak ke samping dan bawah face shield dengan relatif mudah lalu menyebar ke area yang luas. Bagaimana masker dengan valve?

Masker yang dilengkapi peralatan bernapas malah membuat sebagian besar droplet masuk ke dalamnya tanpa terfilter. Hasil penelitian itu diterbitkan pada 1 September dalam jurnal yang telah ditinjau sejawat Physics of Fluids.

Para peneliti melakukan kajian agar membantu publik memahami efektivitas face shield dan masker yang dilengkapi valve. Keduanya kian terkenal di kalangan masyarakat walau efektivitasnya diragukan sekalipun dibandingkan dengan masker kain biasa.

Peneliti mengingatkan pentingnya face shield karena mengurangi kelembapan dan asap ketika dipakai bersamaan dengan kacamata. Pemakaian face shield juga dianggap tak menyulitkan untuk bernapas sekaligus melindungi mata dari cipratan droplet.

"Secara umum, kami dapat gambaran bahwa face shield dan masker dengan valve mungkin tidak seefektif masker reguler dalam menangkal droplet," tulis kesimpulan penelitian itu dilansir dari South China Morning Post, Jumat (5/9).

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat sudah mengingatkan masyarakat agar tak hanya memakai face shield sebagai satu-satunya penangkal Covid-19. Masyarakat tetap perlu memakai masker sebagai perlindungan utama. CDC juga menyarankan masker yang dilengkapi valve sebaiknya tak digunakan di lingkungan wajib steril.

Sumber: ayobandung.com

Share:

Sepeda Lipat Kreuz, "Brompton" Buatan Bandung yang Sedang Naik Daun

 Gaya Hidup - Komunitas, Sepeda Lipat Kreuz, "Brompton" Made In Bandung yang Tengah Naik Daun, Sepeda Lipat,Kreuz,Sepeda Brompton,Brompton,Yudi Yudiantara,Hobi Sepeda Bandung,Sepeda Bandung,Berita Bandung,Berita Viral Bandung,Brompton Bandung,Sepeda Murah,Sepeda Lipat Bandung

Sumber Foto: ayobandung.com

Saat ini, tren sepeda lipat yang tengah menjamur di kalangan masyarakat. Tak tanggung-tanggung, merek sepeda asal Inggris, Brompton, yang dibanderol dengan harga ratusan juta rupiah pun kini ramai diincar.

Namun, Anda tak harus merogoh kocek sedemikian tinggi untuk memiliki unit sepeda lipat impian. Di Kota Bandung, sekelompok perajin sepeda berhasil membuat sepeda lipat yang desainnya terinspirasi dari merek sepeda asal London, Inggris tersebut.

Sepeda yang dinamai Kreuz ini juga tidak kalah diganderungi banyak orang. Betapa tidak, sejak diproduksi pada awal 2020, antrean pre-order sepeda Kreuz sekarang telah mencapai September 2021.

Salah satu pendiri Kreuz, Yudi Yudiantara (50) mengaku tidak menyangka animo masyarakat sedemikan besar. Dia awalnya mencoba membuat prototipe sepeda lipat pada akhir 2019, ketika mengikuti Indonesia Cycling Festival (ICF) di Senayan, Jakarta.

"Di sana kami menjual pannier (tas sepeda) untuk touring, mereknya juga Kreuz. Ternyata banyak yang pakai Brompton, akhirnya bulan Desember mulai terpikir untuk bikin sepeda," ungkapnya ketika ditemui di workshop Kreuz di bilangan Cikutra, Bandung, Senin (23/6/2020) malam.

Kala itu, dia dan rekan-rekannya mencoba membuat prototipe sepeda lipat dengan mereka-reka bentuk Brompton. Hal yang ada di pikirannya saat itu adalah membuat sepeda dengan kualitas yang tak kalah dari sepeda Inggris, namun dapat dijual dengan harga sekelas sepeda lipat buatan China.

"Dan kami berusaha bikin produk yang kualitasnya jauh lebih baik dari buatan China. Sekarang China juga punya sepeda lipat yang terkenal, yaitu 3Sixty dan Pikes (Element Pikes)," ungkapnya.

Di akhir 2019, bersama rekannya, Jujun Junaedi (37), dia membawa sepedanya prototipe-nya tersebut ke Solo, Jawa Tengah untuk diperlihatkan kepada seorang rekan yang juga pehobi sepeda. Ternyata, kala itu dia didaulat untuk melakukan presentasi sederhana di depan komunitas pehobi sepeda.

"Saya enggak meminta mereka untuk beli, tapi berusaha ngasih lihat produk lokal Indonesia pun bisa bersaing," ungkapnya.

Selepas kunjungan ke Solo tersebut, sejumlah orang akhirnya mengontak Yudi untuk memesan sepeda Kreuz. Namun, kala itu pemesanan tidak dilakukan secara terbuka.

"Karena yang nanyain terus bertambah, akhirnya saya bikin lelang di Facebook. Waktu itu tidak sampai satu jam sudah habis 10 buah," ungkapnya.

Akhirnya, pada awal Mei 2020, ia mulai mengumumkan pre-order Kreuz secara terbuka via WhatsApp. Untuk satu kloter pemesanan, ia membatasi untuk hanya mengerjakan 10-15 sepeda.

Ketika Ayobandung.com menyambangi workshop Kreuz, pre-order sepeda tersebut telah terisi hingga Februari 2020. Keesokan siangnya, Selasa (23/6/2020), slot pre-order telah terisi hingga September 2021.

"Sekarang saya tutup semua order agar bisa konsentrasi bekerja. Takutnya jadi enggak kekontrol," ungkapnya.

Didesain Sesuai Medan

Yudi menyebutkan, selain hampir seluruh bagian sepeda Kreuz menggunakan produk lokal, teknologinya pun disesuaikan dengan kontur jalan di Kota Bandung khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Hal ini yang menjadikannya berbeda dengan Brompton ataupun sepeda lipat lainnya.

"Medan jalan di luar negeri dan Indonesia kan berbeda. Kami menyesuaikan dengan jalanan di Indonesia, khususnya di Bandung yang rata-rata tidak mulus," ungkapnya.

Dia memaparkan, secara fisik perbedaan yang kentara antara Brompton dan Kreuz terletak pada frame-nya. Frame sepeda Kreuz tampak lebih melengkung dan 'slim'.

"Selain itu perbedaan juga ada headtube, yang kami ada cincinnya. Headset pakai yang oversized MTB. Ukutan bushing juga berbeda. Kalau secara visual perbedaan hanya di tekukan," jelasnya.

Dia juga menyebutkan produk Kreuz memiliki jaminan garansi purna jual. Untuk mengerjakan lebih dari 100 unit sepeda tersebut, saat ini pihaknya bekerja sama dengan 34 UMKM asal Kota Bandung.

"Kami cari vendor-vendor UMKM yang bisa support dan mau berjuang bareng. Intinya kami juga ingin membangun bisnis yang bisa memberdayakan banyak pihak," ungkapnya.

Satu unit sepeda Kreuz memiliki harga yang bervariasi, tergantung dari jenis dan kualitas sparepart yang bisa dipilih sesuai keinginan. Namun, mereka membanderol harga satu set frame sepeda seharga Rp3,5 juta.

Setidaknya, diperlukan Rp7 juta untuk membawa pulang satu unit sepeda lipat Kreuz yang telah terpasang utuh siap pakai.

Sumber: ayobandung.com

Share:

Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan Pasien COVID-19 Untuk Pulih?

 Gaya Hidup - Sehat, Berapa Lama Pasien Covid-19 Bisa Pulih?, COVID-19,Pasien Covid-19,Corona,Berita Corona

Sumber Foto: ayobandung.com

Ahli fisioterapi di New Hampshire, Amerika Serikat, Julia Henry mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan bagi dirinya untuk bisa sembuh dari Covid-19. Padahal, anak dan suaminya pulih dalam waktu satu hingga dua pekan.

Ibu berusia 40 tahun itu mulai merasakan sakit dan batuk kering pada akhir Maret. Ia membutuhkan waktu hingga dua bulan untuk dinyatakan pulih dari Covid-19.

"Selama lebih dari dua bulan, saya tidak bisa melakukan banyak hal," kata Henry dilansir dari Health 24, Senin (27/7).

Setelah tiga bulan, menurut Henry, akhirnya ia mulai kuat melakukan hal-hal normal sehari-hari. Setidaknya, ia sudah bisa bermain dengan anak-anak atau memasak makan malam untuk keluarga.

Henry merasa, pemulihannya dari Covid-19 berbeda dengan yang lain. Sebagaimana laporan WHO, mereka yang terinfeksi covid-19 dengan kategori ringan dapat pulih dalam dua pekan, sedangkan mereka dengan kasus yang lebih parah membutuhkan waktu hingga enam minggu untuk bisa pulih.

Mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh mengaku memiliki gejala menetap, mulai dari masalah ringan, seperti kehilangan kemampuan indra pengecap atau indra penciuman, hingga yang gangguan yang lebih serius, seperti jantung berdebar, nyeri dada, sesak napas, kelelahan ekstrem, kesulitan kognitif, atau demam yang berulang. Masih belum diketahui apakah gejala-gejala ini akhirnya akan sembuh atau apakah justru menandakan kerusakan permanen dari virus.

"Sudah enam bulan sejak virus terdeteksi di China, jadi tidak ada yang bisa memberi tahu kita dengan pasti apakah ini adalah komplikasi jangka pendek atau jangka panjang," kata ahli jantung di New York City, Dr Samer Kottiech.

Sebanyak 90 persen pasien yang berkosultasi setelah infeksi Covid-19 mengalami gejala yang berkepanjangan. Contohnya, mereka yang terinfeksi pada Maret mengaku belum pulih sepenuhnya.

Sumber: ayobandung.com

Share:

Berikut 7 Relaksasi Pajak dari Kota Bandung

Sumber Foto: ayobandung.com

Pandemi Covid-19 memang sangat berpengaruh terhadap segala lini bidang kehidupan warga Kota Bandung, termasuk ekonomi. 

Hal itu juga berpengaruh terhadap perolehan pajak yang sebagian besar didapat dari sektor jasa dan perdagangan.

Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (BPPD) Kota Bandung, Arief Prasetya mengaku, saat ini telah menurunkan target raihan karena merosotnya angka pendapatan pajak.

“Awalnya target kita adalah Rp2,7 triliun. Triwulan satu masih melampaui target. Masuk triwulan dua saat ini luar biasa drop. Padahal targetnya Rp360 miliar,” jelas Arief saat Bandung Menjawab di Balai Kota Bandung, Selasa (23/6/2020).

Arief pun meminta keringanan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk menyesuaikan target pajak. Saat ini, target pajak Kota Bandung menjadi Rp2,2 triliun. Di triwulan dua, target pajak disesuaikan menjadi Rp111 miliar. BPPD pun mampu melampaui sampai Rp186 miliar per 23 Juni 2020.

“Tapi pandemi ini belum berakhir. Banyak hotel dan restoran yang tutup dan berakibat pada sektor hiburan. Maka di sektor hiburan targetnya kita nolkan, karena karoke, spa, itu tutup,” jelasnya.

Saat ini Kota Bandung hanya mengandalkan perolehan pajak dari 3 sektor saja, yaitu Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dan Bajak Penerangan Jalan (PJJ). Ketiga sektor tersebut dipandang tidak akan berubah selama pandemi Covid-19.

Namun dalam pelaksanaan pemungutan pajak, Arief pun memberikan stimulus berupa keringanan-keringanan dalam pembayaran. BPP telah menetapkan tujuh relaksasi untuk meringankan masyarakat membayar PBB.

1. NJOP Menyesuaikan? Tenang, Pemkot Bandung Beri Stimulus

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah menyatakan bahwa besaran Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ditetapkan setiap tiga tahun. Terakhir kali Pemkot Bandung melakukan penyesuaian NJOP adalah tahun 2017. 

Maka, tahun 2020 Pemkot Bandung perlu melakukan penyesuaian lagi agar tidak ada perbedaan yang jauh antara NJOP dengan harga pasar. Tahun ini, BPPD melakukan penyesuaian angka NJOP sebesar 55%.

“Namun, warga tak perlu khawatir sebab BPPD memberikan stimulus PBB sebesar 100%. Artinya tahun ini warga Bandung akan membayar PBB sejumlah yang mereka bayar tahun 2019,” terang Arief.

Sedangkan untuk tahun depan, Aried menjamin akan tetap memberikan stimulus dengan besaran yang menyesuaikan perkembangan ekonomi Kota Bandung. Stimulus ini bertahap dan berjenjang.

“Ini merupakan perhatian kita pada masyrakat yang sedang mengalami pandemi,” imbuhnya.

2. Bebas Denda Pajak untuk Tunggakan sampai 2017

BPPD menggratiskan denda tunggakan pajak 2017 sampai 2020. Warga yang masih menunggak PBB bisa langsung melunasi kewajibannya tanpa harus khawatir akan terkena denda.

“Untuk wajib pajak akan bayar PBB, misalnya di tahun 2017 dan 2018 belum bayar PBB, silakan bayar pokoknya saja. Itu namanya sunset policy, kita bebaskan itu sehingga masyarakat bisa membayar pokoknya saja,” ujar Arief lagi.

3. PBB Gratis untuk Warga Miskin

Pemkot Bandung menggratiskan PBB untuk warga miskin dengan nilai PBB di bawah Rp100.000. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk keberpihakan Pemkot Bandung kepada warga menengah ke bawah.

“Silakan bapak ibu cek ke kantor UPT kami, sudah kami cap lunas,” tuturnya.

4. PBB Gratis untuk Veteran. Diskon untuk Pensiunan

Pemkot Bandung juga menggratiskan PBB untuk para pejuang kemerdekaan. Para veteran yang ingin memanfaatkan fasilitas ini bisa mengajukan kepada Pemerintah Kota Bandung.

“Veteran pejuang kemerdekaan, 100% bebas apabila mengajukan. Kalau veteran merasa keberatan silakan mengajukan. Pensiunan ASN, BUMN, BUMD, TNI, Polri juga mendapat keringanan. Ada yang 25%, 40%, ada beberapa,” jelasnya.

5. Bayar PBB dengan Sampah, Hanya di Kota Bandung

Jika warga kesulitan membayar PBB, BPPD Kota Bandung juga membolehkan warga membayar kewajibannya dengan menggantinya dengan sampah. Warga bisa membuka rekening di bank sampah mandiri yang ada di wilayahnya. 

Jika saldo tabungannya sudah mencukupi, maka bank sampah akan melakukan autodebet untuk membayarkan PBB.

“Jadi misalnya sehari bisa mengumpulkan plastik, kardus, kaleng, lalu ditukar ke bank sampah misalnya jadi Rp8.000, begitu terus setiap hari sampai cukup saldonya, maka akan langsung autodebet.. Kalau saldonya belum cukup sampai jatuh tempo, bisa ditambah (dengan uang). Lebih meringankan, kan,” ucap Arief.

6. T-PBB alias Tabungan PBB

Jenis pembayaran melalui tabungan juga bisa dilakukan di Bank BJB melalui T-PBB. Wajib pajak bisa melakukan setoran ke bank dengan mencicil hingga jatuh tempo. Jika saldo tabungan sudah mencukupi untuk membayar PBB, bank akan melakukan autodebet.

“Sama dengan melalui bank sampah, kalau saldonya masih kurang sampai jatuh tempo, kekurangannya juga bisa ditambah,” imbuhnya.

7. Tanggal Jatuh Tempo Mundur

Kabar gembira lainnya adalah mundurnya jatuh tempo pembayaran PBB. Biasanya, jatuh tempo PBB terjadi di akhir bulan September.

“Tahun ini kami beri perpanjangan sampai 31 Oktober 2020,” ucap Arief.

Sumber: ayobandung.com

Share:

Jumat, 04 September 2020

Dina Pendidikan Kota Bandung di WFH setelah 4 ASN Positif Virus Corona

Sumber Foto: ayobandung.com

Sumber Foto: ayobandung.com

Setelah dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan swab test, 1 September 2020. Dinas Pendidikan Kota Bandung memberlakukan Work from Home (WFH) bagi para 4 Aparatur Sipil Negara (ASN) .

Dari 4 ASN tersebut, 3 orang berdomisili di luar Kota Bandung. Sementara seorang ASN warga Kota Bandung. 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Hikmat Ginanjar memastikan keempat ASN tersebut telah mengisolasi diri secara mandiri. Keempatnya pun dalam kondisi fit.

100 Dokter Gugur saat Perang Melawan Covid-19, Ini Pesan Pelatih Persib

Masker Jenis Ini Diragukan Efektivitasnya Tangkal Covid-19

Daftar 22 Perusahaan di Bekasi yang Pegawainya Positif Covid-19

Mutasi Corona yang 10 Kali Lebih Menular Masih Sebatas Hasil Uji Lab

"Kami juga terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan," kata Hikmat, Jumat (4/9/2020).

Hikmat juga telah menginstruksikan para pegawai Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk melaksanakan work from home. Hikmat telah membagi tugas untuk pelayanan melalui Nota Dinas.  

Namun tetap ada pegawai yang masuk untuk memberikan pelayanan langsung bagi masyarakat.
 
"Kita juga memanfaatkan kanal layanan daring. Dinas Pendidikan Kota Bandung sudah memiliki website www.layanan.disdikkota.bandung.go.id sebagai platform untuk melakukan permohonan pelayanan," kata Hikmat.

"Mulai dari pelayanan kepegawaian bagi PTK maupun bagi masyarakat yang mau mutasi siswa," tuturnya.

Share:

BTemplates.com

Blog Archive